twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Saturday, February 23, 2019

BENTENG KERAJAAN LAMAJANG KUNO

Oleh Adisaputra Nazhar

Esai Budaya


Gbr Kawasan Situs Biting, Sumber: jurnalindonesianews
Situs Biting Yang Sangat Berharga bagi Sejarah LumajangKabupaten Lumajang terletak 112’53’- 113’23’ BT 7’54’- 8’23’ LS. Nama Lumajang berasal dari kata Lamajang dari pengumpulan data-data tertulis yaitu Prasasti Mula Malurung,Naskah Negarakertagama, Kitab Pararaton, Kitab pujangga Manik, serat Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda.



Prasasti Mula Malurung ditemukan di Kediri tahun 1975 yang berangka tahun 1177 Saka atau 1255 Masehi Prasasti ini berupa Lempengan tembaga yang terdiri dari 12 lempeng, pada lempeng ke VII halaman a baris ke 1-3 menyebutkan ”Sira Nararyya Sminingrat, pinralista juru lamajang pinasangaken jagat palaku ngkaneng nagara lamajang” yang artinya bahwa Beliau Nararya Seminingrat yang diperkirakan Wisnuwardhana (Raja Singhasari) ditetapkan sebagai Juru Lamajang diangkat menjadi Pelindung Dunia di Negara Lumajang.

Tim Peneliti  Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan
meneliti  situs Biting, sumber: news.detik.com
Prasasti ini juga menyebutkan bahwa pada tahun 1255 Paduka Sri Maharaja Seminingrat (Wisnuwardhana) menobatkan putranya Nararya Kirana untuk memimpin Lumajang. Berdasarkan etimologi rakyat Lumah artinya Rumah dan Jang dari kata Yang (Hyang) artinya Dewa, jadi Rumah Dewa yang disucikan, selain itu nama Lumajang dikaitkan dengan sejenis nama tanaman yang tumbuh di wilayah ini.

Pada tahun 1295 Arya Wiraraja mendapatkan bagian sebelah timur dengan Lumajang sebagai ibukotanya dan beliau menetap di Lumajang. (Anonim, Babad Negara Kertagama). Dalam membangun ibu kota kerajaan yang baru ini Arya Wiraraja sebagai seorang negarawan yang berpengalaman telah mempersiapkan letak ibu kota dengan baik. Pertama yang dipilih adalah daerah dengan dilindungi benteng dari alam yaitu dikelilingi sungai (Sungai Bondoyudo, Sungai Ploso dan sungai Winong) dan supaya lebih lengkap dibikin juga sungai buatan yaitu sungai Cangkring. Demikian juga pertahanan benteng ibu kota dibangun dari batu bata sepanjang 10 km dengan ketebalan 6 meter dan tinggi 8 meter. Hal ini dapat kita lihat di dusun Biting sekarang. Disamping itu Arya Wiraraja mepersiapkan daerah-daerah penyangga ibu kota seperti gerbang pertahan Pajarakan di Randu Agung dan daerah basis pertanian disebelah selatang yang subur dan meliputi daerahdaerah yang sekarang di wilayah kecamatan Sukodono, Kecamatan Lumajang dan Kecamatan Padang.

Pada tahun 1316 M Arya Wiraraja meninggal dan Patih Nambi pulang ke Lumajang. Ia kemudian difitnah oleh Mahapatih akan memberontak pada Majapahit. Raja Jayanegara berangkat ke Lumajang dan merebut benteng Pajarakan, Patih Nambi beserta sanak saudaranya mati terbunuh. Para pembesar Majapahit yang menjadi korban Perang Lamajangadalah : Pamandana, Mahisa Pawagal, Panji Anengah, Panji Samara, Panji Wiranagari,jaran Bangkal, Jangkung, Teguh, Sami, Lasem dan Emban yang semuanya merupakan Pengadean (pengikut) dari Raden Wijaya. Perang besar ini kemudian disebut Perang Lamajang. (Anonim, Babad Negara Kertagama).

Setelah Perang Lamajang tahun 1316 M ini kerajaan Lamajang mulai dibawah kekuasaan Majapahit dan diperkirakan Raja-raja Majapahit menempatkan keluarganya untuk memperistri keluarga dan keturunan Arya Wiraraja sehingga dapat meredam daerah yang menjadi sumber pemberontakan tersebut. Dalam Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, kota Lumajang banyak disinggung perjalanan keliling raja Hayam Wuruk pada tahun 1360 M untuk melakukan upacara menghormati leluhurnya. Pada masa Majapahit akhir, Majapahit kemudian terbagi 2 yaitu Majapahit barat dan Majapahit Timur yang kemudian menimbulkan Perang Paregreg (1404 M-1428 M). Pada masa ini Lumajang juga memainkan peranannya yang penting sebagai pusat Majapahit Timur dan pemberontakan Bhre Wirabhumi seorang putera Hayam Wuruk dari selir (anonim,1957). Setelah Majapahait runtuh oleh demak pada tahun 1500-an, Lumajang memainkan peranannya sebagai kerajaan yang tidak tunduk pada pemerintahan Demak dan Mataram. Baru pada tahun 1625-an dimana serangan ketiga kalinya Sultan Agung dari Mataram bisa menundukkan benteng Kutorenon dan membakar kotanya sehingga benteng itu disebut Kutorenon (asal kata Madura dari ketonon yang artinya terbakar).


Situs Biting


Bagian dari Benteng di Situs Biting yang merupakan Benteng
Kerajaan Lamajang Tigang Juru (Nurul Arifin/Okezone)
Situs Biting dibawah administratif Dusun Biting, Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang. Kata Biting berasal dari “Benteng” yaitu bangunan pertahanan dari serangan musuh. Luas Dusun 135 hektar merupakan dataran rendah yang dikelilingi 4 Sungai yaitu sebelah Utara Sungai Bondoyudho, sebelah Timur Sungai Bodang/ Winong, sebelah selatan sungai Cangkring, dan sebelah Barat Sungai Ploso. Areal Situs yang sebagian besar merupakan lahan pertanian padi dan tebu sebelah Timur dan Barat Laut, 25% areal pemukiman penduduk dan sebagian lagi areal peninggalan Situs Biting merupakan sisa dari gundukan diperkirakan dinding benteng di tepian sungai yang mengelilingi situs.

Riwayat penelitian Situs Biting pertama kali ditemukan oleh J. Mageman ketika melakukan peninjaun 1861, selanjutnya dilakukan penelitian oleh A. Muhlenfeld tahun 1920 dan tahun 1923 dilakukan penggalian percobaan. Oleh dinas purbakala Belanda dilakukan pemotretan tembok benteng sebelah selatan makam Menak Koncar.Tahun 1982 Kandepdikbud Kabupaten Lumajang melaporkan situasi Situs Biting. Maka dilakukan penelitian lanjutan Balai Arkeologi Yogyakarta dengan ekskavasi 11 tahap dari tahun 1982-1991. 

Sejarah Biting ini diperkirakan berhubungan masa kekuasaan Arya Wiraraja dan Menak Koncar. Menurut cerita rakyat Arya Wiraraja (Banyak Wide) mempunyai 2 Putra yaitu, Nambi yang diangkat Mahapatih di Majapahit, dan Arya Pinatih yang memerintah di kerajaan Gelgel Bali. Situs Biting adalah bangunan Benteng untuk menahan serangan musuh. Menak Koncar tokoh legendaris yang merupakan penguasa di Lumajang yang sangat berpengaruh. Diperkirakan kekuasaannya pada akhir masa kerajaan Majapahit( anonim, 1985). Daerah kekuasaan Menak Koncar terkenal dengan sebutan Lumajang Tigang Juru yang meliputi wilayah Lumajang, Panarukan dan Blambangan yang juga merupakan bekas wilayah kekuasaan Arya Wiraraja.

Pada masa kekuasaan Islam dari kerajaan Mataram wilayah Lumajang Tigang Juru direbut. Daerah sebelah timur Lumajang dan Kuto Renong ditaklukan oleh Tumenggung Alap-Alap(anonim, 1941). Penyebutan Kuto Renong, Lumajang dan sekitarnya pada babad dan sumber-sumber berkisar abad 14-17 Masehi. Data penanggalan hasil survei dan ekskavasi berupa temuan fragmen keramik menunjukkan abad 14-20 Masehi.

Serangkaian data tentang Situs Biting ini menunjukkan bahwa Situs Biting merupakan daerah penting. Masa kekuasaan Arya Wiraraja diperkirakan Biting sebagai pusat pemerintahan, Secara logika apabila suatu wilayah dibentengi atau dilindungi oleh benteng pertahanan, maka wilayah tersebut merupakan wilayah yang penting atau wilayah dimana penguasa dan keluarga serta tokoh-tokoh yang berdiam diri atau bertempat tinggal. Dan tokoh-tokoh ini mempunyai pengaruh besar bagi masyarakat pada umumnya dan kekuasaan Majapahit khususnya.


Arti Penting Situs Biting dan Sejarah Lumajang bagi Generasi Muda


Kabupaten Lumajang adalah sebuah kota kecil pada masa pemerintahan kolonal belanda hingga Republik Indonesia. Menurunnya arti penting kota ini dikarenakan aktivitas dan dinamika politik masa lalu yang begitu tinggi dan kerap menjadi pusat pergola daerah (pemberontakan) yang mampu membuat pemerintah pusat goyah. Kita melihat Lumajang berperan penting mulai masa kerajaan Singhasari (tahun 1250-an), masa Kerajaan Majapahit (1300-1500), masa pemerintahan Demak dan Pajang (1500-1600) dan awal Kerajaan Mataram Islam. Arti penting daerah Lumajang ini mungkin karena punya potensi ekonomi yang kaya sumber alam dan juga tempat para polotisi-politisi yang tidak mau tunduk pada aturan pusat. Hal ini sesuai dengan cita-cita pendirian Luamajang oleh Arya Wiraraja sebagai Kerajaan merdeka. Mungkin salah satu pertimbangan Pemerintah Kolonial Belanda tidak mau menjadikan Lumajang ini menjadi kota penting adalah karena riwayat pemberontakan yang begitu panjang tersebut. Setelah memutuskan sejarah Lumajang menjadi kota yang hilang tersebut (Lumajang the Lost City) maka di masa Republik Indonesia, Kabupaten Lumajang menjadi semakin kehilangan jati diri dan perkembangannya kalah oleh Kabupaten-kabupaten sekitarnya.

Nah, sejarah Lumajang mulai dirintis kembali. Penghancuran Situs Biting tidak hanya menjadi perhatian lokal tapi juga nasional, pemikiran Arya Wiraraja sebagai pendiri Lumajang dan Majapahit Timur yang merdeka sudah mulai digali. Apakah masyarakat mau membangun jati diri Lumajang yang sebenarnya dimana kota ini pernah melahirkan pemikir dan tokoh nasional seperti Arya Wiraraja, Patih Nambi, Menak Koncar maupun Bhre Wirabhumi. Sekarang tinggal warga dan generasi muda Lumajang, apakah mau bangkit dengan menyelamatkan sejarah kota dan jati dirinya atau diam berpangku tangan sambil pasrah akan keterpurukan Lumajang yang tak terelakkan.

Oleh : Aries Purwantiny, SS. (Seksi Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur di Lumajang)

No comments: